Thread Rating:
  • 9 Vote(s) - 2.56 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Video Poso Vs Densus 88 Ternyata Asli!
#1
VIVAnews - Ketua Tim Pemantauan dan Penyelidikan Penanganan Tindak Pidana Terorisme Komnas HAM, Siane Indriani, menyatakan bahwa video kekerasan Detasemen Khusus 88 Polri yang beredar di situs Youtube adalah asli. Siane memastikan hal tersebut setelah melakukan penyelidikan dan verifikasi langsung ke Palu dan Poso dari 7-11 Maret 2013.

[Image: 196729_video-densus-88_663_382.jpg]
Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM, Siane Indriani (kiri) mendampingi dua korban kekerasan yang diduga dilakukan oknum Densus 88 Tugiran (kanan) dan Wiwin (kedua dari kanan).

"Video itu benar, dan kejadian itu benar-benar terjadi tanggal 22 Januari 2007 yaitu peristiwa Tanah Runtuh yang saat itu memang mendapat ekspose besar-besaran," kata Siane dalam konferensi pers di kantor Komnas HAM, Menteng, Jakarta, Senin 18 Maret 2013.

Siane membantah anggapan dari banyak pihak bahwa video tersebut adalah hasil rekayasa. Dia memastikan bahwa tidak ada rekayasa dalam video itu. "Dari awal sampai akhir, pixel-nya sama. Jadi kualitas gambarnya sama," ujarnya.

Siane mengakui terdapat penggalan dalam video yang juga menjadi bahan laporan Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin ke Polri. Namun demikian, penggalan itu tidak berarti menunjukkan lokasi yang berbeda.

"Ada penggalan-penggalan ketika eksekusi dilakukan. Mungkin sedikit pause, saya tidak tahu. Tapi yang jelas bahwa tidak ada penggalan yang mencerminkan dari lokasi lain seperti yang dikatakan oleh beberapa pihak. Jadi dari sisi ini, kami mengamati dan mendapatkan hasil bahwa video itu benar," urainya.

Atas temuan ini, Siane meminta Mabes Polri untuk mengusut tuntas dan menyeret secara hukum pelaku-pelaku yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Dia menilai kejadian itu tidak bisa dibenarkan dari sisi hak asasi manusia. "Ini sangat serius," ucapnya.

Sebelumnya, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol. Boy Rafli Amar mengaku belum bisa memastikan jika pelaku kekerasan dan penganiayaan terduga teroris itu adalah anggota Densus 88. Boy pun meragukan pelaku kekerasan yang terlihat dalam rekaman video yang dilaporkan oleh sejumlah ormas Islam, seperti MUI, Muhammadiyah, dan NU itu adalah personel Densus.

"Kami nyatakan setelah mencermati tayangan berdurasi 13 menit itu, belum bisa kami pastikan itu adalah anggota Densus," kata Boy dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Senin 4 Maret 2013.

Boy mengatakan pihaknya sudah mempelajari rekaman dilaporkan tersebut. Dia mengakui bahwa di dalamnya memang memperlihatkan proses penangkapan seorang terduga atau tersangka teroris di Poso pada Januari 2007 silam. (umi)

http://nasional.news.viva.co.id/news/rea...us-88-asli
Reply
#2
ini video yg diduga ada kekerasan oleh Densus 88 (atau memang seharusnya keras?) Grin



Reply
#3
Jum'at, 08 Maret 2013 | 13:53 WIB
Alasan Tokoh Agama Laporkan Video Densus ke Polri


TEMPO.CO, Jakarta - Para tokoh agama menemui Kepala Kepolisian RI Jenderal Timur Pradopo dan jajarannya pada Kamis, 27 Februari 2013 lalu. Satu dari para tokoh yang hadir adalah Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin. Mereka menyerahkan video kasus kekerasan yang dianggap sebagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat, yang dilakukan personel polisi kepada terduga teroris.

[Image: ?id=170006&width=620]

"Secara khusus kami datang untuk melaporkan ada bukti berupa video yang mengandung gambar tentang pemberantasan teroris," kata Din Syamsuddin di Markas Besar Polri seusai bertemu Kapolri. "Kami tidak tahu di mana dan kapan, tetapi sangat jelas mengindikasikan pelanggaran HAM berat."

Video tersebut menggambarkaan penyiksaan yang dilakukan oleh polisi, diduga personel Brigade Mobil dan Densus 88, terhadap tersangka teroris. Din mengaku memperoleh video itu dari seseorang. Video yang sama juga sudah sampai ke Dewan Perwakilan Rakyat dan Komisi Nasional HAM.

"Penyiksaan terhadap tersangka teroris luar biasa. Diikat kaki dan tangan, ditembak, diinjak-injak, dan ada yang bernada nuansa keagamaan, (mengatakan) Anda kan mau mati, istigfar-lah," kata Din. Din menganggap penanganan teroris oleh Densus selama ini justru melanggar HAM. "Itu ajaran agama mana, mengajar orang ditalkinkan, tapi tidak diselamatkan, justru dibunuh?" kata dia.

Selain Din, tokoh yang menemui Kapolri kala itu antara lain Ketua Majelis Ulama Indonesia Amidan, pengurus Al-Irsyad Al-Islamiyah Hisyam Thalib, dan Majelis Pustaka PP Muhammadiyah Mustofa Nahrawardaya. Din mengaku memutar video di hadapan Kaporli. "Yang paling penting, Bapak Kapolri menyampaikan respons positif. Ini yang sangat kami hargai," kata Din.
Reply
#4
Jum'at, 08 Maret 2013 | 16:29 WIB
Pengakuan Wiwin, 'Korban' di Video Densus 88

[Image: 171381_475.jpg]


TEMPO.CO, Jakarta -- Wiwin Kalahe alias Tomo, warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Petobo Palu, Sulawesi Tengah, mengaku menjadi korban kekerasan oleh polisi. Dia mengaku sosok di video yang beredar luas di YouTube adalah dirinya. Ia mengaku video itu sudah pernah dilihatnya pada 2008 lalu.

Kepada Tempo, Wiwin mengatakan tak tahu dari mana video tersebut bisa beredar. Ketika ditanyakan apa yang terjadi dalam video, Wiwin menghela nafas panjang. "Ini risiko, mau diapakan lagi," katanya. (Lihat: VIDEO Kekerasan Densus 88 Beredar di Youtube)

Wiwin ditangkap pada Januari 2007. Ia dituduh melakukan mutilasi terhadap tiga siswi Poso 2005. Wiwin divonis 19 tahun penjara.

Kasus video ini menuai banyak sorotan. Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM) mulai menyelidiki kebenaran video. Mereka mendatangi Wiwin, Tugiran, dan Iin yang terekam dalam video tersebut.

Komisioner Siane Indriani di Lapas Palu mengatakan para warga binaan Lapas yang terjerat kasus Poso itu adalah korban kekerasan yang ada di dalam video tersebut. Bahkan, Wiwin dan Tugiran mengaku mereka pernah melihat video tersebut tahun 2008 silam.

"Makanya mereka bertanya, kenapa baru dibuka sekarang di saat para saksi sudah kemana-mana dan sulit dikumpulkan kembali," kata Siane Indriani.

Menurut dia, dari pengakuan Wiwin, terungkap bahwa saat itu terjadi kontak senjata antara warga di Tanah Runtuh dengan aparat keamanan (Densus 88 Anti Teror dan Brimob). Ketika ada salah seorang tertembak, Wiwin kemudian menemui korban tembak itu. Wiwin membuka baju kemudian tangannya diangkat sebagai isyarat menyerah, tapi dia tetap ditembak.

"Dengan adanya video ini, mau tidak mau kita akan buka kembali kasus tahun 2007 itu sebagai bagian dari beberapa data yang kita kumpulkan. Mereka ini korban konflik, maka kita harus lebih hati-hati dan dan proporsional," kata Siane

http://www.tempo.co/read/news/2013/03/08...-Densus-88
Reply
#5
Jum'at, 08 Maret 2013 | 11:53 WIB
Begini Tingkah Polah Korban Densus di Poso


TEMPO.CO, Jakarta - Video kekerasan oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror menyebar via YouTube. Densus 88 langsung menjadi sorotan. Pasalnya, video itu merekam kekerasan terhadap sejumlah orang. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar, mengatakan, peristiwa dalam video itu terjadi di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pada 2007 lalu.

Boy mengatakan, tersangka bernama Wiwin yang kini menjalani hukuman, ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Palu dan M. Basri. (Lihat: Video Kekerasan Densus 88 Beredar di YouTube dan Video Kekerasan Densus 88, Ini Tanggapan Kapolri). Nama lengkap orang itu adalah Wiwin Kalahe
alias Tomo dan M. Basri alias Bagong. Keduanya adalah teroris di Poso.

Komisioner Komnas HAM, Siane Indriani, mengatakan kekerasan itu mengindikasikan adanya pelanggaran HAM berat oleh polisi. Komnas pun sedang menginvestigasi kasus tersebut dan sudah mengantongi bukti video kekerasan tersebut.

Bagaimana sepak terjang Wiwin dan Basri ini? Wiwin Kalahe pernah menjadi satu dari 29 buron dalam kasus teror Poso. Kepada penyidik, Wiwin alias Tomo pernah mengaku membawa potongan kepala korban mutilasi ke Tanah Runtuh dan teribat tiga aksi kekerasan di sana.

Wiwin Kalahe alias Tomo tertangkap pada 22 Januari 2007. Dia memutilasi tiga siswi SMA Kristen Poso di Lorong Bukit Bambu Poso. Dalam aksinya, Wiwin melakukannya bersama Basri, Haris, Iwan Irano, Nanto Bojel, Agus Jenggot, dan Papa Yusran.

Wiwin juga telibat kasus pembunuhan Nelmi Tombiling di Kawua Poso. Aksi kejahatan itu dilakukannya bersama Upik Lawanga. Dia menjadi pengendara motor yang ditumpangi sang eksekutor, Upik Lawanga.

Bahkan Wiwin menjadi eksekutor penembakan terhadap seorang warga di kebun cokelat, Kawua Poso. Aksi ini dilakukan bersama Maryono. Dia menembak menggunakan senjata api jenis revolver. Wiwin, dengan sejata sejenis, juga menembak dua siswi, Ivon dan Siti, di Desa Kasintuwu, Poso. Wiwin dan Basri saat ini menjalani hukuman atas aksi terornya.

http://www.tempo.co/read/news/2013/03/08...us-di-Poso
Reply
#6
Sabtu, 09 Maret 2013 | 06:29 WIB
Sejak Bom Bali I, Densus 88 Tangkap 840 Teroris

[Image: ?id=144803&width=620]

TEMPO.CO, Jakarta - Ratusan teroris yang menyebar di sejumlah daerah di Indonesia telah ditangkap Detasemen Khusus Anti-Teror (Densus 88) sejak terjadinya Bom Bali I pada 2002 lalu. Jumlahnya mencapai 840-an orang. "Dari 840 orang itu hanya sekitar 60-an teroris yang tertembak mati," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai kepada Tempo, Kamis, 7 Maret 2013.

Artinya, kata Ansyaad, sekitar 700-an teroris masih hidup dipenjara atau sudah bebas. Ini juga menunjukkan jika cara yang dilakukan Densus 88 dalam menangani teroris tidak berlebihan atau melanggar HAM seperti yang dituduhkan pihak-pihak tertentu. "Kita juga tetap sediakan pengacara. Di penjara mereka juga tetap dapat remisi," ujarnya.

Dia melanjutkan, dalam operasi penangkapan teroris, Densus melakukan investigasi, penyamaran, dan pengamatan secara jelas dan terukur selama bertahun-tahun. Hal ini dilakukan agar warga sipil yang tidak terlibat tak ikut terkena dampaknya. Upaya ini juga untuk menghindari terjadinya pelanggaran HAM yang lebih besar. "Bukan ujug-ujug terorisnya langsung ditembak, tapi mereka itu sudah bertahun-tahun dikejar. Rekam jejaknya sudah diikuti betul sehingga tidak salah orang," ujarnya.

Karena itulah, Ansyaad menilai jika pihak-pihak yang mengusulkan pembubaran Densus 88 karena tuduhan pelanggaran HAM berarti tidak mengerti sulit dan bahayanya menghadapi teroris. Apalagi saat ini jaringannya tersebar di seluruh Indonesia. "Musuh itu ya teroris, bukannya Densus. Mereka yang jelas-jelas melanggar HAM berat dan musuh negara," kata Ansyaad. "Kalau Densus dibubarkan, lalu siapa yang tangkap terorisnya?," tambah mantan kepala Polda Sumatera Utara ini balik bertanya.

http://edsus.tempo.co/konten-berita/poli...40-Teroris
http://edsus.tempo.co/Kontroversi-densus
Reply
#7
seorang buronan yang sudah tertangkap tentu tidak boleh dipukul seperti itu, untuk yang ditembak saya tidak tahu pasti apa memang dia sudah menyerah kemudian ditembak atau dalam keadaan bertempur seperti yang di katakan petugas tadi. Yang pasti harus diadakan penyelidikan tentang kebenarannya.

Kalo memang sudah menyalahi maka anggota densus tersebut harus diproses hukum. Dan yang pasti anggota densus juga jangan ragu untuk bertindak, jangan sampai kejadian nurdin m top sama azhari yang bisa lolos di bandung karena banyak pertimbangan yang kemudian mereka berhasil melakukan teror baru.

Terus benahi densus 88 dan perkuat mereka, semoga negara kita bisa lebih aman
Reply
#8
kalo densus 88 jadi bajingan sma yang jaga negara kita ini... ???
Reply
#9
densus 88 dibangun karena ada kepentingan dari negara barat. makanya mereka selalu over acting agar dikira hebat...
Reply
#10
(19-03-2013, 09:53 AM)Assasin Wrote: densus 88 dibangun karena ada kepentingan dari negara barat. makanya mereka selalu over acting agar dikira hebat...

berarti gak perlu Densus ya ndan.. Blah trus ada solusi..??
Reply


Possibly Related Threads...
Thread Author Replies Views Last Post
  Ternyata Pria Jepang Suka Pakai Bra d4Ld0L 31 6.897 01-12-2015, 10:40 PM
Last Post: venvenla
  Kasus Sisca Terkuak, Ternyata Hanya Bermotif Penja zeemers 20 4.934 18-03-2014, 03:18 PM
Last Post: nataly
  Ternyata Rokok Mengandung Darah Babi! 5551272 10 2.244 08-11-2012, 09:24 AM
Last Post: Cermin2sisi

Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)
Forum Bebas Indonesia
Demokrasi & Kebebasan temukan jalannya!
Respecting others will make you happy here
© 2004-2014 by Adimin | Fan Page | Group | Twitter | Google+ | Instagram